Bahlil Mini Soccer Bukan Sekadar Adu Gol, Atika Banowati: Generasi Muda Harus Dikenalkan Politik Sejak Dini
PONOROGO (JI) – Gelaran Grand Final Bahlil Mini Soccer Zona 2 U-17 se-Madiun Raya tidak sekadar menjadi panggung adu kemampuan di lapangan hijau. Turnamen bertajuk “Asyik Menuju Puncak” memperebutkan Piala Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia itu juga menjadi ruang untuk mengenalkan pendidikan politik kepada generasi muda melalui kegiatan yang positif dan menyenangkan.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Hj. Atika Banowati, SH mengapresiasi pelaksanaan turnamen yang dinilainya mampu menggabungkan semangat olahraga, pembinaan generasi muda, serta pendidikan politik. Jumat (4/9/2026).
Menurut Atika, pengenalan politik kepada anak muda tidak harus selalu dilakukan melalui forum formal. Nilai-nilai seperti sportivitas, kedisiplinan, kerja sama, tanggung jawab, serta menghargai perbedaan merupakan bagian penting dari pendidikan karakter yang juga memiliki keterkaitan dengan kehidupan demokrasi.
“Bahlil Mini Soccer ini bukan sekadar adu gol. Ada semangat membangun generasi muda melalui olahraga sekaligus mengenalkan pendidikan politik dengan cara yang lebih dekat dengan mereka,” ujar Atika.
HuIa menilai generasi muda perlu mendapatkan pemahaman mengenai politik sejak dini agar kelak mampu menjadi masyarakat yang kritis, cerdas, dan memiliki kepedulian terhadap pembangunan daerah maupun bangsa.
“Generasi muda harus dikenalkan politik sejak dini. Tetapi tentu dengan cara yang sesuai dengan usia mereka, edukatif, positif, dan tidak membebani. Mereka harus tahu bahwa politik itu juga berbicara tentang bagaimana kita membangun masa depan bersama,” jelasnya.
Atika juga memberikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Bahlil Mini Soccer Zona 2 U-17 se-Madiun Raya. Seluruh rangkaian turnamen hingga grand final berjalan lancar, aman, dan kondusif.
Menurutnya, turnamen seperti ini memberikan ruang bagi para pelajar dan generasi muda untuk menyalurkan bakat sekaligus belajar banyak hal di luar lingkungan sekolah.
“Alhamdulillah pelaksanaannya berjalan lancar dan kondusif. Anak-anak bisa bertanding dengan semangat, menunjukkan kemampuan, tetapi tetap menjaga sportivitas. Ini yang harus kita pertahankan,” katanya.
Ia berharap kegiatan olahraga yang melibatkan generasi muda dapat terus dikembangkan dan tidak berhenti pada satu event. Kompetisi secara berkelanjutan dinilai penting untuk menemukan bibit-bibit atlet sekaligus membentuk karakter generasi penerus.
“Olahraga dan pendidikan karakter harus berjalan bersama. Kita ingin anak-anak muda Ponorogo dan Madiun Raya tumbuh menjadi generasi yang sehat, sportif, disiplin, punya prestasi, dan nantinya juga memiliki kepedulian terhadap daerah serta bangsa,” pungkas Atika.
Grand Final Bahlil Mini Soccer Zona 2 U-17 se-Madiun Raya pun menjadi penutup rangkaian kompetisi yang mempertemukan talenta-talenta muda dari wilayah Madiun Raya. Lebih dari sekadar hasil pertandingan, turnamen ini membawa pesan bahwa lapangan olahraga juga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal sportivitas, kebersamaan, dan nilai-nilai kehidupan demokrasi. (Ari FS)


