[JI] NEWS >>>

Tinjau Bronjong 130 Meter di Ponorogo, Ali Mufthi dan Atika Banowati Dorong Penanganan Banjir Berkelanjutan

 

PONOROGO (JI) – Upaya mengantisipasi banjir dan mencegah erosi bantaran sungai di Kabupaten Ponorogo terus menjadi perhatian. Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, Dr. H. Ali Mufthi, M.Si., bersama anggota Komisi D DPRD Jawa Timur, Hj. Atika Banowati, S.H., meninjau pembangunan tanggul bronjong sepanjang 130 meter di Kelurahan Kepatihan dan Surodikraman, Senin (26/10/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi infrastruktur pengaman bantaran sungai sekaligus menyerap aspirasi masyarakat terkait kebutuhan penanganan banjir, terutama menjelang musim penghujan.

Dalam peninjauan itu, Atika Banowati yang merupakan anggota DPRD Jawa Timur Fraksi Partai Golkar dari Daerah Pemilihan (Dapil) IX, meliputi Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, Magetan, dan Ngawi, menyampaikan apresiasi atas perhatian Pak Ali Mufthi terhadap kebutuhan pembangunan infrastruktur di Ponorogo.

Lebih lanjut Atika Banowati mengungkapkan, keberadaan Pak Ali Mufthi di Komisi V DPR RI yang membidangi infrastruktur dan perhubungan, serta keterlibatannya di Badan Anggaran (Banggar), menjadi salah satu jalur untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat agar mendapat perhatian dalam perencanaan pembangunan.

“Alhamdulillah, kita punya Pak Ali Mufthi yang notabene adalah anggota DPR RI Komisi V dan Banggar, sehingga bisa maksimal dalam memperjuangkan kebutuhan masyarakat,” ujar Atika.

Ia berharap pembangunan tanggul bronjong tersebut dapat memberikan perlindungan bagi masyarakat, khususnya warga yang tinggal dan beraktivitas di sekitar bantaran sungai. Penguatan bantaran dinilai penting untuk mengurangi risiko pengikisan tanah akibat derasnya arus air serta mengantisipasi dampak luapan sungai saat hujan deras.

“Insyaallah, dengan dipasangnya bronjong sepanjang itu, insyaallah kita tidak lagi khawatir banjir bila musim penghujan. Langkah ini merupakan solusi yang luar biasa,” imbuhnya.

Pembangunan bronjong sepanjang 130 meter tersebut telah rampung. Meski demikian, masyarakat berharap upaya penguatan bantaran sungai tidak berhenti pada satu lokasi, tetapi dapat dilanjutkan ke titik-titik rawan lainnya sesuai kebutuhan dan hasil kajian teknis.

Sementara itu, Ali Mufthi menegaskan bahwa penanganan banjir di Ponorogo membutuhkan perencanaan yang menyeluruh dan berbasis kajian teknis. Menurutnya, setiap usulan pembangunan infrastruktur pengendali banjir harus dianalisis oleh tenaga ahli agar solusi yang diterapkan tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi sungai.

Salah satu aspirasi yang mengemuka dari masyarakat dan kelompok tani adalah pembangunan parapet atau tanggul permanen untuk membantu menahan luapan air. Usulan tersebut, perlu dikaji secara teknis dengan mempertimbangkan lokasi, kondisi aliran sungai, serta efektivitasnya dalam mengurangi risiko banjir,"ungkapnya.

Lebih lanjut Ali Mufthi juga berencana mengundang pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo pada Desember mendatang untuk menelusuri sumber-sumber banjir di Ponorogo. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengidentifikasi persoalan secara lebih menyeluruh, sehingga penanganan tidak hanya berfokus pada satu titik, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sungai dari hulu hingga hilir.

Melalui koordinasi antara pemerintah, legislatif, dan instansi teknis, penanganan banjir di Ponorogo diharapkan dapat dirancang secara berkelanjutan. Dengan begitu, pembangunan infrastruktur tidak hanya memperkuat bantaran sungai, tetapi juga memberikan perlindungan yang lebih baik bagi permukiman, lahan pertanian, dan aktivitas masyarakat. (Ari FS)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar