PONOROGO (JI) - Pemerintah Kabupaten Ponorogo menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2026 serta Forum Konsultasi Publik (FKP) Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029 di Aula Bappeda Litbang, Senin (17/3/2025).
Acara ini dihadiri Bupati Sugiri Sancoko, Wakil Bupati Lisdyarita, kepala OPD, camat, unsur Forkopimda, akademisi, serta peserta daring melalui YouTube dan luring.
Dalam sambutannya, Kepala Bappeda Litbang Ponorogo, Dr. Drs. Agus Sugiarto, M.Si, mengungkapkan berbagai capaian pemerintahan Sugiri Sancoko-Lisdyarita dalam empat tahun terakhir.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Ponorogo terus meningkat dan pada 2023 bahkan melampaui angka nasional serta rata-rata kabupaten lain. Indikator sosial lainnya, seperti angka kemiskinan, stunting, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), juga mengalami perbaikan,"terangnya.
Lebih lanjut Agus Sugiarto, mengucapkan Alhamdulillah, Pak Bupati dan Ibu Wakil Bupati bisa melanjutkan ke periode kedua, sehingga dapat benar-benar menuntaskan program menuju Ponorogo Hebat,"ujarnya.
Sementara itu Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko dalam kata sambut menegaskan komitmennya untuk terus melibatkan masyarakat dalam pembangunan yang transparan dan akuntabel. Ia menargetkan angka kemiskinan Ponorogo turun hingga maksimal 4% dalam lima tahun ke depan.
Banyak cara untuk mencapainya. Tapi yang paling penting adalah memahami kelemahan kita dan mencari solusi yang tepat. Salah satu strategi yang diusung adalah penguatan sektor pertanian melalui pembangunan sumur dalam guna meningkatkan luas tanam. Menurutnya, dengan teknologi tersebut, petani yang biasanya hanya bisa panen sekali dalam setahun bisa meningkatkan produksi hingga dua atau empat kali lipat,"kata Sugiri di hadapan peserta Musrenbang.
Lanjut, Kang Giri sapaan akrab Bupati Ponorogo juga mengingatkan ancaman alih fungsi lahan yang terus menggerus sektor pertanian. Ia menegaskan perlunya kesadaran bersama untuk menekan konversi lahan pertanian menjadi permukiman atau industri.
"Kita harus bergerak serentak. Kalau lahan pertanian habis, masa depan pangan Ponorogo akan terancam," tegasnya.
Di samping aspek ekonomi, Sugiri juga menyinggung pentingnya nilai budaya dalam pembangunan Ponorogo. Ia ingin filosofi Reog menjadi landasan utama dalam membangun daerah, seiring dengan konsep keseimbangan alam dan pengelolaan sampah berkelanjutan.
Kebudayaan harus jadi instrumen utama dalam pembangunan. Filosofi Reog dan kearifan lokal santri Ponorogo bisa menjadi kekuatan besar. Dengan berbagai kebijakan ini, Sugiri optimistis Ponorogo dapat semakin maju dan sejahtera. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan semakin besar dan membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat. "Kita tidak bisa hanya bicara. Kita harus bergerak dan memastikan pembangunan berjalan dengan baik,"pungkasnya. (Ari FS)




COMMENTS