[JI] NEWS >>>

Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe”: Memahami Politik Birokrasi Seorang Lisdyarita, Plt Bupati Ponorogo

PONOROGO (JI) -  Filosofi Jawa “Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe” tampak menjadi napas dalam kepemimpinan Pelaksana Tugas (PLT) Bupati Ponorogo, Lisdyarita. Ungkapan yang bermakna bekerja tanpa pamrih namun giat dalam berkarya itu tercermin dalam gaya politik birokrasi yang ia jalankan dimasa transisi ke Pemerintahan Kabupaten Ponorogo.

Di tengah dinamika politik dan tuntutan pelayanan publik yang semakin kompleks, Bunda Lisdyarita menunjukkan pendekatan yang lebih menekankan pada kerja nyata dibandingkan pencitraan. Ia dikenal aktif turun langsung ke lapangan, menyapa masyarakat, serta memastikan program-program pemerintah berjalan efektif dan tepat sasaran.

Dalam menjalankan perannya sebagai Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita juga dinilai mampu menjaga stabilitas birokrasi. Ia menempatkan aparatur sipil negara (ASN) sebagai motor penggerak pelayanan publik yang harus bekerja profesional, disiplin, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi politik birokrasi yang tidak konfrontatif, melainkan kolaboratif.

“Bekerja saja yang baik, hasilnya biar masyarakat yang menilai,” menjadi prinsip yang kerap disampaikan dalam berbagai kesempatan. Sikap tersebut memperkuat citra kepemimpinan yang tidak berlebihan dalam retorika, tetapi fokus pada implementasi. Kamis. (16/4/2026)

Selain itu, Lisdyarita juga mendorong sinergi lintas sektor, baik dengan DPRD, Forkopimda, maupun elemen masyarakat. Hal ini dilakukan untuk memastikan setiap kebijakan yang diambil tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi pembangunan daerah.

Pengamat Ponorogo Syakur menilai, gaya kepemimpinan seperti ini menjadi penting di tengah kondisi politik yang sering kali diwarnai kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan mengedepankan filosofi “sepi ing pamrih, rame ing gawe”, tegese, tumindak becik utawa nyambut gawe kanthi mempeng, tulus, lan ikhlas tanpa ngarep-arep piwales (imbalan) utawa pamuji saka wong liya. Bunda Lisdyarita dinilai mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan politik dan pelayanan publik,"ungkapnya.

Lebih lanjut Syakur mengatakan di mata masyarakat, kehadiran pemimpin yang sederhana dalam sikap namun kuat dalam kerja menjadi harapan tersendiri. Terlebih di daerah seperti Ponorogo yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang masih dijunjung tinggi,"ujarnya.

"Dengan pendekatan tersebut, Lisdyarita tidak hanya menjalankan tugas administratif sebagai Plt Bupati, tetapi juga menghadirkan warna kepemimpinan yang membumi, selaras dengan budaya lokal, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat luas," pungkasnya. (Ari FS)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar