Mbah Gecol: Jangan Berebut Kursi Wabup, Saatnya DPRD Cari Pendamping Bunda Lisdyarita dari Kalangan Birokrat
Di tengah munculnya berbagai nama dan kepentingan politik yang mulai mengemuka, Mbah Gecol, pengusaha Kopi Legend Ponorogo (Wakoka), mengingatkan agar pembahasan calon wakil bupati tidak dilakukan secara tergesa-gesa.
Menurutnya, ada sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, kondisi Sugiri Sancoko yang saat ini masih dalam suasana berduka. Karena itu, menurut Mbah Gecol, kurang elok apabila pembicaraan mengenai perebutan posisi calon wakil bupati justru dilakukan terlalu dini.
“Pak Sugiri masih berduka. Kenapa sekarang sudah membahas dan memperebutkan calon wakil bupati?” ujarnya.
Mbah Gecol juga menilai bahwa persoalan siapa yang akan menjadi wakil bupati bukan semata-mata urusan kelompok, relawan maupun partai pendukung. Menurutnya, mekanisme tersebut pada akhirnya menjadi ranah anggota DPRD sesuai ketentuan yang berlaku.
“Masalah wakil bupati itu urusan anggota DPRD. Jadi biarkan DPRD menjalankan prosesnya dengan baik dan mencari figur yang benar-benar tepat,” tegasnya.
Minta Partai Pendukung dan Tim Pemenangan Introspeksi
Lebih jauh, Mbah Gecol menyoroti persoalan mundurnya Sugiri Sancoko dari jabatan Bupati Ponorogo yang berkaitan dengan perkara korupsi. Menurutnya, situasi tersebut seharusnya menjadi momentum bagi partai pendukung, ketua pemenangan maupun tim sukses untuk melakukan introspeksi.
Ia berpandangan, akan lebih elok apabila pihak-pihak yang dahulu berada di belakang pasangan tersebut terlebih dahulu menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Ponorogo.
“Pak Sugiri mundur dari bupati karena korupsi. Menurut saya, akan lebih elok dan indah apabila partai pendukung, ketua pemenangan maupun tim suksesnya memohon maaf terlebih dahulu kepada masyarakat Ponorogo,” katanya.
Menurut Mbah Gecol, masyarakat Ponorogo dikenal memiliki karakter santun. Nilai-nilai unggah-ungguh, rasa dan penghormatan terhadap sesama, kata dia, sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa yang diwariskan secara turun-temurun.
“Orang Jawa itu punya roso. Itu sudah ada sejak nenek moyang. Ponorogo juga dikenal sebagai kota pesantren. Jadi menurut saya, kita harus mengedepankan kesantunan dan menjaga perasaan masyarakat,” tuturnya.
Birokrat Dinilai Cocok Dampingi Bunda Lisdyarita
Terkait figur yang ideal mendampingi Bunda Lisdyarita apabila nantinya menjadi Bupati definitif, Mbah Gecol justru menawarkan perspektif berbeda.
Ia menilai sosok dari kalangan birokrat bisa menjadi pilihan yang tepat untuk mengisi posisi wakil bupati. Pertimbangannya, Bunda Lisdyarita dinilai memiliki latar belakang pengusaha, sehingga keberadaan wakil dari kalangan birokrasi dapat menjadi pasangan yang saling melengkapi dalam menjalankan pemerintahan.
“Kalau menurut saya, lebih tepat wakil bupati itu dari kalangan birokrat. Bu Lisdyarita kan dari kalangan pengusaha. Jadi bisa saling melengkapi,” jelasnya.
Ia bahkan mengingatkan bahwa pola pasangan kepala daerah dari latar belakang yang berbeda sebenarnya bukan hal baru di Ponorogo.
Mbah Gecol mencontohkan sejumlah pasangan kepala daerah sebelumnya, seperti Muhadi-Amin hingga Ipong Muchlissoni, yang menurutnya juga menunjukkan adanya perpaduan latar belakang dalam menjalankan roda pemerintahan.
“Dulu juga ada seperti Pak Muhadi, Pak Amin, kemudian Pak Ipong. Polanya seperti itu, ada yang saling melengkapi. Jadi tidak harus semuanya dari kalangan yang sama,” ungkapnya.
DPRD Diminta Cari Figur Tepat Sasaran dan Tepat Guna
Mbah Gecol berharap proses penentuan wakil bupati nantinya tidak berubah menjadi ajang perebutan kepentingan politik maupun kekuasaan.
Ia meminta para wakil rakyat di DPRD Ponorogo benar-benar mempertimbangkan kebutuhan pemerintahan dan kepentingan masyarakat luas.
“Semoga wakil-wakil kita di DPRD bisa mencarikan figur yang tepat sasaran dan tepat guna. Jangan hanya berdasarkan kepentingan kelompok. Semua harus legowo,” pungkasnya.
Menurutnya, siapapun figur yang nantinya dipercaya mendampingi Bunda Lisdyarita harus mampu bekerja bersama, menjaga stabilitas pemerintahan, memahami karakter masyarakat Ponorogo serta mengutamakan kepentingan rakyat.
Sebab, bagi Mbah Gecol, jabatan wakil bupati bukan sekadar soal siapa mendapatkan posisi, melainkan siapa yang benar-benar mampu memberikan manfaat bagi Ponorogo. (Ari FS)
