[JI] NEWS >>>

Manto Setyawan Kenalkan Metode Pengairan Baru: 1 Hektare Jagung Cukup 30 Menit, Hemat Air dan Biaya

PONOROGO (JI) – Inovasi di sektor pertanian terus berkembang. Kali ini, Manto Setyawan, petani sekaligus Direktur PT Ponorogo Agro Mandiri (PAM), memperkenalkan metode pengairan baru yang dinilai lebih efektif, efisien, hemat air, sekaligus mampu menekan biaya operasional petani.

Metode tersebut memanfaatkan jaringan pipa paralon dan sistem distribusi air melalui drip (selang/pipa tetes) yang dimodifikasi, sehingga air dapat disalurkan secara merata ke area tanaman.

Manto menjelaskan, sistem pengairan diawali dari sumber air atau sibel, kemudian air dialirkan menggunakan paralon berdiameter 4 dim menuju jaringan utama. Dari pipa induk tersebut kemudian dipasang jaringan drip yang diarahkan ke setiap gulutan atau bedengan tanaman.

“Dari sibel kita pakai paralon 4 dim. Kemudian dari pipa induk paralon 4 dim tersebut kita pasang drip dan disalurkan ke gulutan. Jarak antar-drip sekitar tiga meter,” jelas Manto.

Yang menarik, jaringan drip tersebut tidak hanya berfungsi sebagai saluran air biasa. Pada bagian tertentu dibuat lubang-lubang sehingga air dapat keluar dan menyebar ke area tanaman dengan pola menyerupai air hujan.

“Drip tersebut kita lubangi, sehingga air yang keluar bisa menyebar seperti air hujan. Dengan begitu pengairan bisa lebih merata dan air tidak terbuang percuma,” terangnya.

Menurut Manto, salah satu keunggulan metode tersebut terletak pada kecepatan pengairan. Untuk tanaman jagung, kebutuhan pengairan satu hektare dapat dilakukan hanya sekitar 30 menit, tergantung kondisi lahan dan debit air.

Sementara untuk tanaman padi, durasi pengairan satu hektare diperkirakan sekitar satu jam.

“Untuk satu hektare tanaman jagung cukup sekitar 30 menit. Sedangkan untuk padi kurang lebih satu jam. Tentunya waktu bisa menyesuaikan kondisi lahan dan debit air,” kata Manto.

Ia menegaskan, metode tersebut tidak hanya dapat diterapkan untuk jagung dan padi. Sistem distribusi air dengan jaringan paralon dan drip itu juga memungkinkan digunakan untuk berbagai jenis tanaman, selama pengaturan jaringan dan debit air disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

Bagi Manto, efisiensi pengairan menjadi salah satu kunci penting dalam menghadapi tantangan pertanian modern. Air merupakan kebutuhan utama tanaman, namun penggunaannya harus dilakukan secara tepat agar tidak terjadi pemborosan.

“Metode ini bisa untuk mengairi segala tanaman. Harapannya petani bisa mendapatkan sistem pengairan yang lebih efektif dan efisien, sekaligus menghemat air dan biaya,” ungkapnya.

Inovasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong petani agar tidak hanya mengandalkan metode konvensional. Dengan memanfaatkan teknologi sederhana yang mudah diterapkan, sistem pengairan dapat dibuat lebih terukur sesuai kebutuhan tanaman.

Manto berharap metode tersebut dapat dikembangkan dan diterapkan lebih luas oleh petani. Sebab, menurutnya, inovasi pertanian tidak selalu harus menggunakan teknologi yang mahal. Dengan kreativitas dan pengelolaan yang tepat, peralatan sederhana pun dapat memberikan manfaat besar bagi produktivitas pertanian.

“Intinya bagaimana air bisa sampai ke tanaman secara efektif, tidak banyak terbuang, waktunya lebih cepat, dan biaya pengairannya lebih hemat. Kalau bisa lebih efisien, tentu petani juga yang mendapatkan manfaatnya,” pungkas Manto. (Ari FS)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar