Bimo Aji: Pendamping Lisdyarita Tak Cukup Populer, yang Terpenting Mampu Seirama Membangun Ponorogo
PONOROGO (JI) – Menghangatnya bursa calon Wakil Bupati Ponorogo mulai menjadi perbincangan publik. Sejumlah nama bermunculan sebagai kandidat pendamping Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita. Namun, di balik ramainya spekulasi politik, muncul pandangan bahwa popularitas bukanlah faktor utama dalam menentukan sosok wakil bupati.
Ketua Relawan Alap-Alap pasangan Sugiri Sancoko–Lisdyarita (RILIS) pada Pilkada 2020 dan 2024, Agus Setiaji atau yang akrab disapa Bimo Aji, menilai yang paling dibutuhkan Ponorogo adalah figur yang mampu membangun kemitraan kuat dengan kepala daerah agar roda pemerintahan berjalan harmonis hingga 2030.
Pandangan tersebut mencuat di tengah penantian putusan terhadap Bupati nonaktif Sugiri Sancoko yang dijadwalkan pada 11 Agustus 2026. Putusan itu diperkirakan menjadi titik awal transisi kepemimpinan sekaligus membuka tahapan pengisian jabatan wakil bupati sesuai mekanisme yang berlaku.
"Saya mengikuti perkembangan politik di Ponorogo, termasuk berbagai nama yang belakangan ramai diberitakan sebagai calon pendamping Bunda Lisdyarita," ujar Bimo Aji saat ditemui di kediamannya, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, menguatnya pembahasan mengenai kursi wakil bupati merupakan dinamika politik yang sehat dan wajar dalam iklim demokrasi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa proses pengusulan belum memasuki tahapan resmi sehingga pembicaraan tersebut masih terlalu dini.
"Dinamika politik seperti ini justru bagus dan sah-sah saja. Hanya saja, waktunya memang masih terlalu cepat," katanya.
Bimo Aji menegaskan, masyarakat sebaiknya tidak hanya terpaku pada figur yang memiliki tingkat popularitas tinggi atau dukungan politik besar. Yang lebih penting adalah kemampuan calon wakil bupati menjalin hubungan kerja yang solid dengan bupati.
"Yang paling penting adalah ada kecocokan. Bupati dan wakil itu ibarat pasangan yang harus saling memahami, saling menguatkan, dan bekerja seirama demi Ponorogo," tegasnya.
Ia berpandangan, wakil bupati ideal harus memiliki kapasitas kepemimpinan, pengalaman, integritas, serta kemampuan komunikasi yang baik. Dengan demikian, sosok tersebut mampu menjadi mitra strategis dalam merumuskan kebijakan dan menyelesaikan berbagai persoalan daerah, bukan sekadar melengkapi struktur pemerintahan.
Selain itu, Bimo Aji menilai pengalaman politik Sugiri Sancoko tetap layak menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan figur pendamping Lisdyarita.
"Terlepas dari kondisi yang dihadapi beliau saat ini, saran dan pertimbangannya tetap penting untuk didengar. Kita tidak bisa begitu saja mengabaikannya," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sesuai mekanisme yang berlaku, setelah penetapan bupati definitif masih terdapat jeda waktu sekitar tiga bulan sebelum usulan nama wakil bupati dapat diproses.
Karena itu, ia memperkirakan dinamika politik akan terus berkembang. Namun, menurutnya, ukuran utama dalam memilih wakil bupati bukanlah seberapa besar kekuatan politik yang dimiliki, melainkan kemampuan membangun sinergi dengan kepala daerah demi menjaga stabilitas pemerintahan dan mempercepat pembangunan Kabupaten Ponorogo.
"Pada akhirnya, masyarakat tentu berharap lahir pasangan pemimpin yang kompak, saling melengkapi, dan mampu bekerja bersama untuk membawa Ponorogo semakin maju," pungkas Bimo Aji. (Ari FS)

