Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2026 Berlangsung Meriah, Semangat Lestarikan Sejarah dan Budaya Ponorogo
PONOROGO (JI) – Kirab Grebeg Tutup Suro Ponorogo kembali menjadi puncak rangkaian tradisi penutupan Tahun Baru Hijriah yang dipusatkan di Monumen Bantarangin, Kecamatan Kauman, Somoroto. Perhelatan budaya dan religi yang menjadi kebanggaan masyarakat eks Karesidenan Pembantu Bupati Somoroto ini berlangsung khidmat sekaligus semarak dengan melibatkan ribuan peserta dan masyarakat. Kamis, (16/7/2026).
Selama lima hari penyelenggaraan, Grebeg Tutup Suro menyuguhkan berbagai agenda budaya yang sarat makna. Rangkaian kegiatan diawali dengan Bedol Pusaka, dilanjutkan Kirab Budaya, hingga tradisi Buceng Porak yang menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, dan harapan akan keberkahan di tahun baru Hijriah. Seluruh rangkaian resmi ditutup melalui Malam Pesona Tutup Suro, yang menjadi penanda berakhirnya perayaan tahun ini.
Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2026 mengusung semangat pelestarian sejarah dan budaya lokal. Salah satu yang menjadi perhatian masyarakat adalah pengangkatan tokoh legenda warok Suro Badeg, yang dikenal sebagai bagian dari sejarah dan cerita rakyat Ponorogo. Selain itu, berbagai penampilan seni dan budaya lintas sejarah turut memperkaya kemeriahan acara.
Kirab budaya berlangsung meriah dengan menghadirkan beragam peserta dari berbagai unsur. Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sekolah-sekolah, komunitas seni dan budaya, pelaku usaha, hingga berbagai elemen masyarakat tampil menampilkan kreativitas melalui mobil hias, kostum tradisional, seni pertunjukan, serta atraksi budaya yang memukau ribuan pengunjung di sepanjang rute kirab.
Perhelatan tahunan ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi media edukasi untuk mengenalkan sejarah Bantarangin sebagai salah satu cikal bakal peradaban di Ponorogo. Nilai-nilai sejarah, gotong royong, toleransi, dan kecintaan terhadap budaya lokal ditampilkan secara harmonis dalam setiap rangkaian kegiatan.
Camat Kauman, Toni Khristiawan, S.STP., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2026. Menurutnya, perhelatan budaya tahunan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi momentum penting untuk menjaga warisan sejarah sekaligus memperkuat persatuan masyarakat.
"Grebeg Tutup Suro adalah identitas budaya masyarakat Kauman yang harus terus kita lestarikan. Alhamdulillah, tahun ini seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan meriah berkat sinergi pemerintah, TNI-Polri, OPD, sekolah, komunitas, pelaku usaha, serta seluruh masyarakat. Semangat kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama dalam menjaga dan mengembangkan budaya warisan leluhur," ujar Toni Khristiawan.
Ia berharap Grebeg Tutup Suro Bantarangin dapat terus berkembang menjadi agenda budaya unggulan Kabupaten Ponorogo yang tidak hanya memperkuat kecintaan terhadap sejarah lokal, tetapi juga mampu menarik lebih banyak wisatawan dan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat.
Senada diungkapkan Plt. Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2026 yang dinilai mampu menjadi ruang pemersatu masyarakat sekaligus sarana pelestarian budaya daerah.
“Grebeg Tutup Suro bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi warisan budaya yang mengandung nilai sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat Ponorogo. Saya mengapresiasi seluruh pihak yang telah berpartisipasi, mulai dari OPD, sekolah, komunitas, pelaku usaha, hingga masyarakat yang bersama-sama menjaga dan menghidupkan tradisi luhur ini. Semoga semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya daerah terus diwariskan kepada generasi muda,” ujar Bunda Lisdyarita.
Menurutnya, penyelenggaraan Grebeg Tutup Suro Bantarangin juga menjadi bukti bahwa budaya lokal memiliki kekuatan besar untuk mempererat persaudaraan sekaligus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat. Ia berharap tradisi yang telah mengakar kuat di wilayah eks Karesidenan Pembantu Bupati Somoroto tersebut terus berkembang dan menjadi salah satu ikon budaya unggulan Kabupaten Ponorogo,"pungkasnya. (Ari FS)



