SMK PGRI 1 Ponorogo Gelar IHT, Perkuat Kompetensi Guru Hadapi Transformasi Pendidikan
PONOROGO (JI) – Perubahan dunia pendidikan yang bergerak semakin cepat menuntut guru untuk terus beradaptasi. Menjawab tantangan tersebut, SMK PGRI 1 Ponorogo menggelar In House Training (IHT) bagi guru dan karyawan selama tiga hari, 3–5 September 2026.
Bertempat di kawasan wisata Telaga Ngebel, kegiatan rutin tahunan tersebut menjadi ruang bagi para pendidik untuk memperbarui wawasan, meningkatkan kompetensi, sekaligus menggali metode pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pendidikan saat ini.
Dalam kegiatan tersebut, SMK PGRI 1 Ponorogo menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Lukito, S.Pd., M.MT., Pengawas SMK Ponorogo, serta Septa Krisdiyanto, M.Pd., Instruktur Deep Learning.
Beragam materi diberikan dengan menyesuaikan perkembangan terbaru dalam dunia pendidikan, termasuk metode pembelajaran yang dapat diterapkan guru di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Kepala SMK PGRI 1 Ponorogo, Bahari Pujianto, S.Si., mengatakan IHT tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi merupakan bagian dari komitmen sekolah untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya guru dan karyawan.
“Materi yang kami sesuaikan dengan perkembangan pendidikan saat ini, termasuk metode pembelajaran terbaru dan perkembangan teknologi. Harapannya, guru mendapatkan ilmu-ilmu baru dari pemateri yang kami hadirkan dan nantinya bisa diterapkan di dalam kelas,” ujar Bahari.
Menurutnya, peningkatan kompetensi guru harus bermuara pada perubahan kualitas pembelajaran. Guru diharapkan tidak hanya menyampaikan materi secara monoton, tetapi mampu menciptakan suasana belajar yang membuat siswa benar-benar memahami, bahkan mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh.
“Harapan kami ada peningkatan kualitas pembelajaran di kelas. Ketika pembelajaran meningkat, siswa tidak hanya menerima secara monoton, tetapi benar-benar bisa memahami bahkan mengaplikasikan ilmu yang didapatkan di kelas,” jelasnya.
Sebanyak 33 guru mengikuti kegiatan IHT tersebut. Sementara itu, panitia kegiatan melibatkan 10 karyawan, dengan sebagian karyawan lainnya tetap bertugas menjaga operasional sekolah.
Menariknya, meski kegiatan guru dan karyawan berlangsung di luar sekolah, aktivitas pembelajaran siswa tetap berjalan. Siswa tidak diliburkan, melainkan mengikuti pembelajaran dari rumah melalui sistem daring bersama guru masing-masing.
Bahari menambahkan, salah satu target utama IHT adalah mendorong lahirnya inovasi pembelajaran. Sebab, menurutnya, guru yang terus berkembang akan lebih mampu menciptakan kelas yang aktif dan menarik bagi siswa.
“Dari kegiatan ini, guru dan tenaga pendidik diharapkan semakin bersemangat dalam pembelajaran karena mendapat ilmu baru. Yang paling penting adalah peningkatan dan inovasi. Ketika bapak ibu guru punya inovasi baru, otomatis kelas itu akan hidup,” ungkapnya.
Kelas yang hidup, lanjut Bahari, akan mendorong siswa lebih sehat secara suasana belajar, lebih bersemangat, dan lebih mudah mencapai kompetensi yang diharapkan.
Karena itu, IHT di Telaga Ngebel tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan guru. Lebih jauh, kegiatan tersebut diarahkan untuk menghasilkan perubahan nyata ketika guru kembali ke ruang kelas.
“Intinya semua ini untuk mengoptimalkan layanan yang terbaik kepada siswa, wali murid dan masyarakat,” tegas Bahari.
Dengan bekal pengetahuan, metode, dan wawasan baru yang diperoleh selama tiga hari, SMK PGRI 1 Ponorogo berharap para guru mampu membawa energi baru ke ruang kelas. Sebab, di tengah perubahan pendidikan yang semakin cepat, kualitas guru menjadi salah satu kunci agar pembelajaran tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan generasi masa kini. (Ari FS)




