[JI] NEWS >>>

Hj. Atika Banowati Gelar Pagelaran Wayang Kulit untuk Haul Eyang Ndoro Tondo dan Pelestarian Budaya

PONOROGO (JI) - Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Hj. Atika Banowati, menggelar pagelaran wayang kulit sebagai wujud nazar sekaligus rangkaian peringatan Haul Eyang Ndoro Tondo. Kegiatan tersebut menjadi bentuk rasa syukur serta penghormatan kepada leluhur yang telah memberikan teladan dan warisan nilai-nilai kehidupan bagi masyarakat.

Tradisi, spiritualitas, dan budaya berpadu dalam pagelaran wayang kulit tersebut menjadi momen istimewa karena tak sekadar pertunjukan seni, tetapi juga wujud nazar dari Hj. Atika Banowati, SH dalam rangka haul Eyang Ndoro Tondo.

Pergelaran yang diinisiasi anggota DPRD Provinsi Jawa Timur tersebut terselenggara melalui kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan seni budaya, khususnya wayang kulit. Bertempat di Pelataran Ndoro Tondo, di Jalan Hos Cokroaminoto No. 24 Ponorogo, Sabtu (6/6/2026).

Pergelaran wayang kulit yang berlangsung meriah itu mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Ratusan warga dari berbagai daerah hadir untuk menyaksikan salah satu kesenian tradisional yang menjadi identitas budaya Jawa tersebut.

Mengusung lakon Aji Narantaka, pagelaran menghadirkan dalang Ki Eko Prisdianto. Suasana semakin semarak dengan kehadiran bintang tamu seperti Lusi Brahman dan Elisha Oreavus dan Jabang.

Dalam Sambutanya Hj. Atika Banowati mengatakan kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari pelaksanaan nazar dan penghormatan kepada leluhur, tetapi juga sebagai upaya nyata menjaga dan melestarikan budaya bangsa agar tetap dikenal oleh generasi muda.

“Wayang kulit bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan yang sarat dengan nilai moral, pendidikan, dan kearifan lokal. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, bahkan banyak waranggono yang masih berstatus pelajar. Ini menjadi sinyal positif bahwa regenerasi seni budaya berjalan dengan baik serta semakin mencintai budaya warisan leluhur,” ujarnya.

Lebih lanjut Atika Banowati menegaskan bahwa pagelaran ini memiliki makna personal sekaligus kultural. Sebagai buyut dari Eyang Ndoro Tondo, ia mengungkapkan memiliki nazar untuk menggelar wayang kulit sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

"Sabtu Wage dipilih karena bertepatan dengan haul Eyang Ndoro Tondo. Ini bukan sekadar acara budaya, tetapi juga bagian dari doa dan penghormatan kepada leluhur. Alhamdulillah, hari ini bisa terwujud melalui kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur,”jelasnya.

Lanjut Atika Banowati menjelaskan pentingnya nguri-uri budaya sebagai upaya menjaga identitas sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat. Menurutnya, pergelaran wayang tidak hanya bernilai seni, tetapi juga berdampak pada perputaran ekonomi, mulai dari pelaku UMKM hingga para seniman,"terangnya.

Sementara itu Perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Adianto, turut mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menyebut semangat pelestarian wayang kulit di Jawa Timur saat ini sangat tinggi, ditandai dengan banyaknya pagelaran di berbagai daerah dalam waktu bersamaan.

"Ini menunjukkan sinergitas yang kuat antara pemerintah daerah dan DPRD. Budaya tetap menjadi prioritas yang harus dijaga bersama,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan anggota DPR RI sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, Dr. H. Ali Mufthi., S.Ag., M.Si Dalam pandangannya, wayang kulit menyimpan nilai filosofis yang relevan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia mencontohkan tokoh Gatotkaca sebagai simbol keberanian dan pengorbanan, yang dinilai penting untuk diteladani generasi muda.

“Wayang mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan dan keberanian. Ini penting untuk membangun karakter bangsa,” tegasnya.

Acara ini juga dihadiri para Ketua DPD Golkar dari daerah pemilihan IX meliputi Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, Magetan, dan Ngawi, serta berbagai tamu undangan lainnya.

Sofyan salah satu masyarakat yang hadir mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai pagelaran wayang kulit tidak hanya menjadi hiburan yang mengakar pada tradisi, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya yang penting bagi generasi penerus.

Dengan terselenggaranya Haul Eyang Ndoro Tondo yang dibalut pagelaran wayang kulit, Hj. Atika Banowati berharap semangat pelestarian budaya dan penghormatan terhadap jasa para leluhur dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga warisan budaya bangsa tetap lestari dan menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Timur. (Ari FS)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar