[JI] NEWS >>>

Ketua IDI Ponorogo Berganti, dr. Kautsar Bawa Misi Dokter Sejahtera dan Terlindungi

 

PONOROGO (JI) – Tongkat estafet kepemimpinan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Ponorogo resmi berpindah. dr. Kautsar Prastudia E.B., Sp.A., M.Sc. dipercaya memimpin IDI Kabupaten Ponorogo periode 2026–2029.

Pelantikan dan pengambilan sumpah kepengurusan baru digelar di Pendopo Kabupaten Ponorogo, Sabtu (29/8/2026). Hadir dalam agenda tersebut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo Dr. Dyah Ayu Puspitaningarti, SKM., M.Kes., yang mewakili Plt Bupati Ponorogo Bunda Lisdyarita.

Mengemban amanah baru, Kautsar langsung menegaskan sejumlah agenda prioritas. Ia ingin menjadikan IDI sebagai rumah organisasi yang mampu memberikan rasa nyaman, perlindungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan para anggotanya.

“Yang pasti kesejahteraan anggota. Kedua, kebermanfaatan untuk anggota,” tegas Kautsar dalam sambutannya.

Menurutnya, para dokter yang memilih bergabung dan aktif di IDI telah memberikan waktu, tenaga, serta pemikiran untuk kemajuan organisasi. Karena itu, kepengurusan periode 2026–2029 memiliki tanggung jawab memastikan keberadaan IDI benar-benar memberikan manfaat nyata bagi anggotanya.

Target tersebut akan menjadi salah satu fokus utama, khususnya pada satu hingga dua tahun pertama kepemimpinannya.

“Kita targetkan bagaimana anggota IDI ini bisa merasa lebih nyaman, lebih sejahtera berada di dalam IDI,” ujarnya.

Namun, Kautsar memastikan IDI Ponorogo tidak akan hanya berkutat pada kepentingan internal organisasi. Sebagai organisasi profesi dokter, IDI tetap akan mengambil peran dalam mendukung pembangunan sektor kesehatan di Kabupaten Ponorogo.

IDI, kata dia, siap bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Ponorogo maupun Dinas Kesehatan dalam menjalankan berbagai program dan kebijakan kesehatan yang bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Dokter Hadapi Tantangan Hukum yang Makin Kompleks

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian serius Kautsar adalah meningkatnya tantangan hukum dalam praktik kedokteran.

Menurutnya, masyarakat saat ini semakin melek informasi. Perkembangan teknologi, internet, serta media sosial membuat masyarakat semakin mudah mengetahui hak-haknya, termasuk berbagai mekanisme dan jalur hukum ketika terjadi persoalan dalam pelayanan kesehatan. Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga medis.

Karena itu, IDI Ponorogo berkomitmen memberikan perlindungan hukum yang layak dan maksimal kepada para dokter ketika menghadapi persoalan hukum dalam menjalankan tugas profesionalnya.

“Kita bisa memberikan perlindungan yang maksimal untuk tenaga dokter. Tapi juga tidak mengesampingkan aspek keadilan kepada pasien,” tegas Kautsar.

Ia menekankan, perlindungan terhadap dokter bukan berarti organisasi akan membenarkan setiap tindakan anggotanya. IDI harus mampu memastikan setiap persoalan ditangani secara profesional, objektif, adil, dan sesuai ketentuan yang berlaku.

Dengan demikian, dokter dapat menjalankan profesinya dengan lebih tenang, sementara hak dan keselamatan pasien tetap menjadi prioritas.

Ketua IDI Jatim Soroti Pengabdian Pengurus

Ketua IDI Wilayah Jawa Timur dr. Budi Himawan memberikan apresiasi terhadap kepengurusan baru IDI Kabupaten Ponorogo.

Budi menyebut Kautsar sebagai salah satu ketua IDI cabang termuda di Jawa Timur. Di usia 38 tahun, Kautsar dinilai memiliki tantangan sekaligus energi besar untuk membawa organisasi profesi tersebut menjadi semakin solid dan bermanfaat.

Namun, Budi mengingatkan bahwa memimpin organisasi profesi dokter bukan pekerjaan ringan. Dokter bekerja dalam profesi yang memiliki risiko tinggi karena bersentuhan langsung dengan keselamatan manusia.

Karena itu, IDI harus mampu menjaga soliditas internal sekaligus membangun komunikasi dan sinergi yang baik dengan pemerintah.

Budi juga menyinggung tantangan organisasi profesi yang dituntut mampu berdiri secara mandiri. Menurutnya, IDI selama ini tidak menggantungkan roda organisasi pada dana hibah pemerintah.

Bahkan, dalam kondisi tertentu, pengurus harus rela urunan untuk memastikan kegiatan organisasi tetap berjalan. “Kalau kita bicara itu, murni pengabdian, murni sosial,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa jabatan dalam organisasi profesi bukanlah ruang untuk mengejar keuntungan pribadi. Sebaliknya, semakin tinggi posisi seseorang dalam organisasi, semakin besar pula tanggung jawab pengabdian yang harus dijalankan.

Budi pun mengajak seluruh anggota IDI Ponorogo menjaga kekompakan dan soliditas organisasi agar mampu terus berkontribusi dalam pembangunan kesehatan dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Dinkes Dorong Sinergi Organisasi Profesi

Sementara itu, Plt Bupati Ponorogo Bunda Lisdyarita yang diwakili Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo Dr. Dyah Ayu Puspitaningarti menegaskan pentingnya sinergi antara organisasi profesi dengan pemerintah daerah.

Ia mengatakan, dokter memiliki posisi vital dalam sistem pelayanan kesehatan, baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.

Karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo berkomitmen terus membangun komunikasi dan sinergi dengan seluruh organisasi profesi kesehatan.

“Tujuan kita sama, semua organisasi profesi tujuannya adalah bagaimana memberikan pelayanan kesehatan yang sangat baik bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menegaskan komitmen Dinas Kesehatan untuk mendorong keberadaan satu organisasi profesi bagi masing-masing profesi kesehatan di Ponorogo, mulai dari dokter, apoteker, perawat, bidan, hingga tenaga kesehatan lainnya.

Dengan kepengurusan baru tersebut, IDI Ponorogo diharapkan tidak hanya semakin kuat secara internal, tetapi juga mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjawab berbagai tantangan kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan bagi masyarakat Ponorogo. (Ari FS)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar