[JI] NEWS >>>

Atika Banowati Dorong Gen Z Jadi Garda Terdepan Penanganan Sampah di Ponorogo

PONOROGO (JI) – Persoalan sampah yang semakin mengkhawatirkan di Jawa Timur menjadi perhatian berbagai kalangan. Penanganannya dinilai tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda.

Hal itu disampaikan Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi Partai Golkar, Hj. Atika Banowati, SH, saat menggelar Sosialisasi Wawasan Kebangsaan (Soswan) bertema "Kebersihan adalah Tanggung Jawab Kita" di Aula Rumah Makan Sami Lumayan, Minggu (28/6/2026).

Dalam paparannya, Atika menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, setiap individu menghasilkan sampah sehingga setiap orang juga memiliki kewajiban untuk mengelolanya.

"Sampah adalah masalah kita bersama. Setiap aktivitas kita pasti menghasilkan sampah. Maka penyelesaiannya juga harus dimulai dari diri sendiri," ujarnya.

Ia secara khusus mengajak generasi Z untuk menjadi pelopor perubahan perilaku dalam menjaga kebersihan lingkungan. Menurutnya, anak muda memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran kolektif sekaligus menggerakkan masyarakat agar lebih peduli terhadap pengelolaan sampah.

"Saya mengajak Gen Z ikut ambil peran mulai dari lingkungan terkecil. Jangan sampai sampah menjadi racun yang menimbulkan persoalan baru bagi kehidupan kita," tegasnya.

Atika juga mengingatkan bahwa kondisi darurat sampah bukan hanya terjadi di Kabupaten Ponorogo, melainkan telah menjadi persoalan serius di tingkat Provinsi Jawa Timur. Karena itu, diperlukan perubahan pola pikir masyarakat dari sekadar membuang sampah menjadi mengelola sampah sejak dari sumbernya.

Sosialisasi tersebut menghadirkan aktivis lingkungan sekaligus peraih penghargaan Kalpataru, Endang Widyati, sebagai narasumber. Ia menekankan bahwa penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari rumah tangga.

"Sampah diproduksi manusia, maka harus diselesaikan oleh manusia. Idealnya selesai di tingkat rumah tangga, bukan menumpuk di TPS," jelas Endang.

Menurutnya, selama ini masyarakat masih menganggap Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sebagai solusi, padahal hanya memindahkan masalah ke lokasi lain. Karena itu, ia mendorong penguatan sistem bank sampah sebagai solusi yang mampu mengurangi volume sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. "Kalau dikelola dengan baik, sampah bisa menjadi sumber penghasilan," katanya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ponorogo, H. Sapto Djadmiko, menegaskan bahwa kebijakan pengelolaan sampah ke depan tidak lagi berfokus pada pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) baru.

"TPA nantinya hanya difungsikan untuk menampung residu atau sampah yang benar-benar sudah tidak dapat diolah lagi," ungkapnya.

Ia menjelaskan, paradigma pengelolaan sampah harus bergeser dari pendekatan end of pipe menjadi pengelolaan sejak dari sumbernya, terutama di tingkat rumah tangga.

Saat ini, DLH Ponorogo terus mengembangkan berbagai program pengelolaan sampah berbasis masyarakat, seperti bank sampah, TPS3R, TPST, Material Recovery Facility (MRF), budidaya maggot BSF, hingga rumah kompos. Selain itu, pengembangan teknologi pengolahan sampah juga mulai diterapkan melalui skema waste to energy, Refuse Derived Fuel (RDF), kerja sama co-processing dengan industri, serta penggunaan insinerator untuk mengolah residu sesuai standar lingkungan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran bahwa penanganan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari rumah tangga, dengan generasi muda sebagai motor penggerak menuju lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. (Ari FS)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar