Menyatukan Langkah, Merawat Warisan: Refleksi Grebeg Suro 2026
![]() |
| Ferry Dian Kristianto (Fery DK) - Pemuda Peduli Pelestarian Reog Ponorogo |
Sebagai seorang pemuda yang mengikuti dinamika penyelenggaraan Grebeg Suro 2026 dan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI, saya memandang polemik yang berkembang belakangan ini bukan sekadar persoalan siapa yang menang, siapa yang kalah, atau siapa yang mendapat dukungan lebih besar. Persoalan yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat memandang penggunaan anggaran publik yang berasal dari uang rakyat serta bagaimana prinsip keadilan dapat dirasakan oleh seluruh pelaku budaya.
Ketika muncul informasi mengenai dukungan anggaran dari APBD melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur kepada salah satu kontingen peserta festival, wajar apabila publik kemudian mempertanyakan rasa keadilan bagi kontingen lain yang juga berjuang melestarikan dan mengembangkan Reog Ponorogo, khususnya di wilayah Jawa Timur. Dalam sebuah festival budaya yang menjunjung tinggi nilai sportivitas, pelestarian tradisi, dan semangat gotong royong, sekecil apa pun potensi keberpihakan akan selalu menjadi perhatian masyarakat.
Saya memahami penjelasan yang telah disampaikan oleh Disbudpar Jawa Timur bahwa dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya pembinaan, regenerasi, dan penguatan seni budaya daerah, bukan bentuk intervensi terhadap kompetisi yang sedang berlangsung. Namun demikian, saya menilai bahwa persoalan utama bukan semata-mata terletak pada niat baik pemerintah, melainkan pada persepsi yang muncul di tengah masyarakat.
Dalam tata kelola pemerintahan yang baik, menjaga kepercayaan publik memiliki nilai yang sama pentingnya dengan menjalankan program itu sendiri. Ketika sebuah institusi pemerintah tampak memberikan dukungan yang lebih dominan kepada salah satu peserta dalam arena yang sama, maka ruang interpretasi publik akan terbuka luas. Di sinilah pentingnya transparansi, komunikasi yang jelas, dan mekanisme dukungan yang dapat dipahami oleh seluruh pihak.
Grebeg Suro dan Festival Nasional Reog Ponorogo selama ini telah menjadi ruang bersama bagi seluruh insan Reog. Festival ini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo, tetapi juga telah berkembang menjadi agenda budaya berskala nasional yang membawa nama Ponorogo dan Jawa Timur ke panggung yang lebih luas. Karena itu, setiap bentuk kebijakan dan dukungan yang diberikan pemerintah seyogianya dirancang agar dapat dirasakan secara proporsional oleh seluruh pihak yang terlibat.
Tujuannya bukan untuk mengurangi perhatian kepada kelompok tertentu, melainkan memastikan bahwa tidak ada pihak yang merasa berada pada posisi yang kurang setara dalam memperoleh akses pembinaan, pendampingan, maupun dukungan pemerintah. Ketika seluruh peserta merasa mendapatkan ruang yang adil, maka semangat kompetisi akan tumbuh secara sehat dan fokus utama festival sebagai sarana pelestarian budaya akan tetap terjaga.
Pada akhirnya, polemik yang muncul saat ini seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama, bukan ajang saling menyalahkan. Reog adalah identitas kolektif masyarakat Ponorogo, sementara anggaran publik merupakan amanah yang harus dikelola dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keadilan.
Sebagai bagian dari masyarakat yang mencintai budaya daerah, saya berharap pemerintah provinsi maupun seluruh pemangku kepentingan dapat membangun mekanisme dukungan yang lebih terbuka, terukur, dan merata. Dengan demikian, Grebeg Suro tidak hanya menjadi perayaan budaya yang meriah, tetapi juga menjadi contoh bagaimana kebijakan publik dijalankan dengan menjunjung tinggi rasa keadilan bagi seluruh pelaku budaya.
Secara pribadi, sebagai putra daerah Ponorogo, saya tidak pernah meragukan kredibilitas Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Ponorogo yang selama ini telah melewati berbagai dinamika penyelenggaraan Grebeg Suro dari tahun ke tahun. Pengalaman panjang tersebut tentu menjadi modal penting dalam menjaga kualitas dan marwah festival. Namun, karena adanya polemik yang berkembang saat ini, saya melihat perlunya ruang dialog yang lebih terbuka agar berbagai perbedaan pandangan dapat diselesaikan secara bijaksana dan konstruktif.
Sebagai putra daerah yang mencintai Reog dan Grebeg Suro, saya meyakini bahwa kecintaan terhadap budaya tidak selalu diwujudkan melalui pujian. Terkadang, kecintaan justru hadir dalam bentuk pertanyaan, evaluasi, kritik yang membangun, dan harapan agar warisan budaya yang kita banggakan dapat terus tumbuh dengan menjunjung tinggi nilai keadilan bagi seluruh pelakunya.
Karena itu, melalui momentum Grebeg Suro 2026 ini, saya mengajak seluruh pihak—baik pemerintah daerah, instansi terkait, pegiat seni Reog, generasi muda, maupun seluruh masyarakat Ponorogo—untuk menjadikan berbagai dinamika yang muncul sebagai bahan refleksi bersama. Tidak ada pihak yang perlu diposisikan sebagai lawan, sebab pada hakikatnya kita semua memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga marwah Reog Ponorogo dan memastikan Grebeg Suro terus berkembang menjadi kebanggaan daerah yang mampu menyatukan, bukan memisahkan.
Ke depan, semangat keterbukaan, pemerataan kesempatan, dan komunikasi yang sehat perlu terus dibangun agar setiap elemen merasa memiliki ruang yang sama dalam proses pelestarian budaya. Dengan saling berbenah, saling mendengar, dan saling menguatkan, saya percaya Grebeg Suro tidak hanya akan menjadi perayaan budaya yang meriah, tetapi juga menjadi simbol persatuan masyarakat Ponorogo dalam merawat warisan leluhur yang telah mengharumkan nama daerah hingga tingkat nasional maupun internasional.
Pada akhirnya, Reog adalah milik kita bersama. Maka sudah sepatutnya pula kita menjaganya dengan hati yang sama: hati yang tulus untuk melestarikan, hati yang lapang untuk menerima masukan, dan hati yang bersatu untuk membawa Grebeg Suro menjadi lebih baik dari tahun ke tahun.
Sebagai penutup, saya bersama sahabat-sahabat pemuda dan pemudi Ponorogo hanya memiliki satu harapan sederhana: semoga Reog tetap menjadi pemersatu, Grebeg Suro tetap menjadi kebanggaan, dan seluruh pihak dapat berjalan beriringan demi masa depan budaya Ponorogo yang lebih kuat, lebih adil, dan lebih bermartabat.
