Supriyanto Anggota DPR RI Komisi V Gerindra Buka Sekolah Lapang Iklim, Dorong Petani Ponorogo Adaptif Hadapi Perubahan Iklim
PONOROGO (JI) – Ketidakpastian iklim menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian. Perubahan pola hujan, pergeseran musim, hingga potensi cuaca ekstrem dapat berdampak langsung terhadap produktivitas dan risiko gagal panen.
Menjawab tantangan tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Anggota DPR RI Komisi V Fraksi Partai Gerindra Drs. Supriyanto menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik Jawa Timur di Rumah Makan Sego Tempong, Desa Patik, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi petani dan penyuluh pertanian untuk memahami kondisi cuaca dan iklim sekaligus mengimplementasikan informasi meteorologi dalam menentukan strategi pertanian.
Sebanyak 52 peserta, terdiri atas perwakilan kelompok tani dan penyuluh pertanian, mengikuti kegiatan tersebut secara aktif.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Jawa Timur, Anung Suprayitno, S.Si., M.Ling., dalam sambutannya menjelaskan bahwa peserta akan mendapatkan materi mulai dari pemahaman dasar hingga materi lanjutan terkait cuaca dan iklim.
Menurutnya, pengetahuan tersebut tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus dapat diterapkan secara konkret dalam aktivitas pertanian sehari-hari.
"Semoga materi yang kami berikan ini dapat membawa manfaat besar bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan produktivitas hasil pertanian di tengah ketidakpastian iklim saat ini,” ujarnya.
SLI Tematik tersebut dibuka secara langsung oleh Anggota Komisi V DPR RI Drs. Supriyanto. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya penguasaan teknologi dan informasi meteorologi bagi petani di tengah perubahan iklim global.
Menurutnya, kemampuan petani dalam membaca dan memanfaatkan informasi cuaca menjadi salah satu bagian penting dalam mengantisipasi berbagai risiko di sektor pertanian.
“Pembekalan melalui SLI Tematik ini diharapkan mampu meminimalkan risiko gagal panen dan mendongkrak produktivitas sektor pangan di wilayah Jawa Timur, khususnya Ponorogo,” harapnya.
Dengan mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”, Supriyanto secara resmi membuka kegiatan Sekolah Lapang Iklim Tematik Jawa Timur tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Ponorogo, Masun, menyambut baik dan mengapresiasi sinergi antara BMKG, pemerintah daerah, legislatif, penyuluh, serta kelompok tani dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia berharap 52 peserta yang mengikuti SLI mampu menyerap materi secara maksimal. Tidak hanya untuk kepentingan kelompok masing-masing, pengetahuan tersebut diharapkan dapat diteruskan kepada petani lain di lingkungan mereka.
"Melalui Sekolah Lapang Iklim Tematik ini, para peserta dibekali kemampuan untuk membaca fenomena alam, memanfaatkan data prakiraan cuaca dari BMKG, serta menentukan strategi penanaman yang tepat demi mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan,” pungkasnya.
SLI Tematik di Ponorogo diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan semata. Pengetahuan mengenai cuaca dan iklim diharapkan benar-benar menjadi bagian dari pengambilan keputusan petani, sehingga sektor pertanian semakin adaptif, produktif, dan tangguh menghadapi perubahan iklim. (Ari FS)


